Rasa Sedih Ketika Menyusui? Itu D-MER

Ibu menyusui bayi tampak sedih dan melelahkan, memegang kepalanya — menggambarkan rasa sedih ketika menyusui akibat kondisi D-MER.

Rasa sedih ketika menyusui kadang muncul tiba-tiba, bahkan saat bayi menyusu dengan tenang. Selain itu, sebagian ibu merasa bersalah karena mengira momen menyusui “harusnya bahagia.” Padahal, perubahan hormon, kelelahan, dan tekanan mental bisa membuat emosi turun. Karena itu, mengenali pola rasa sedih ketika menyusui membantu ibu memilih langkah yang paling tepat, sekaligus mencegah kondisi memburuk.

Penyebab Rasa Sedih Ketika Menyusui yang Paling Sering

Rasa sedih ketika menyusui karena D-MER

D-MER (Dysphoric Milk Ejection Reflex) ditandai emosi negatif yang muncul tepat sebelum atau saat ASI let-down. Biasanya, sensasinya singkat (sekitar 1–2 menit) lalu mereda. Namun, gelombangnya bisa terasa kuat, misalnya sedih, hampa, gelisah, atau ingin menangis tanpa sebab. Jadi, kalau rasa sedih ketika menyusui hanya muncul di momen let-down dan berulang di banyak sesi, D-MER patut dipertimbangkan.

D-MER karena baby blues, lelah, atau stres

Baby blues cukup umum pada awal masa nifas dan biasanya membaik dalam dua minggu. Sementara itu, kurang tidur, nyeri puting, payudara tegang, serta komentar sekitar dapat menambah stres. Akibatnya, sesi menyusui terasa berat walau ibu sangat sayang pada bayinya. Oleh karena itu, dukungan rumah, pembagian tugas, dan perbaikan kenyamanan menyusui sangat berpengaruh.

D-MER sebagai tanda depresi pascamelahirkan

Jika sedihnya menetap sepanjang hari, muncul hilang minat, cemas berat, atau merasa tidak mampu merawat diri dan bayi, kondisi ini bisa mengarah ke depresi pascamelahirkan. Karena itu, bantuan profesional penting, dan ibu tetap bisa berdiskusi soal opsi yang aman selama menyusui.

Cara Mengatasi D-Mer

Pertama, catat kapan sedih muncul: hanya saat let-down atau sepanjang hari. Lalu, kurangi pemicu dengan makan cukup, minum, dan tidur bergantian dengan pasangan/keluarga. Selain itu, perbaiki posisi menyusui (perlekatan yang baik biasanya mengurangi nyeri), sehingga stres ikut turun. Kemudian, coba strategi “menenangkan sistem saraf” saat menyusui, misalnya napas 4–6 detik, musik pelan, atau grounding dengan menyentuh kain/selimut bertekstur. Namun, bila ibu merasa sangat tertekan, konsultasi dengan konselor laktasi bisa membantu mengatasi masalah teknis yang sering jadi pemicu emosi.

Di sisi lain, dukungan emosional juga penting. Misalnya, ibu bisa meminta satu orang terdekat untuk menjadi “teman cek-in” harian, walau hanya 5 menit. Selain itu, membatasi paparan konten yang memicu perbandingan (“kok ASI orang lain lancar?”) sering membantu menjaga mood. Jika perlu, buat target kecil: fokus menyusui satu sesi demi satu sesi, bukan memikirkan semua hari sekaligus.

Terakhir, segera cari bantuan medis bila rasa sedih ketika menyusui makin berat, berlangsung >2 minggu, disertai serangan panik, atau muncul pikiran menyakiti diri/bayi. Bantuan profesional dapat membuat ibu lebih stabil, sehingga proses menyusui juga lebih nyaman dan aman.

Referensi
https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/24879-dysphoric-milk-ejection-reflex
https://www.acog.org/womens-health/faqs/postpartum-depression
https://www.cdc.gov/breastfeeding-special-circumstances/hcp/illnesses-conditions/postpartum-depression.html

Comments |0|

Category: Ibu | Kesehatan | Menyusui
Tags: ,