Keterlambatan Onset Laktasi: Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya

Ibu menyusui bayi dengan posisi nyaman sebagai ilustrasi onset laktasi dan proses awal produksi ASI setelah melahirkan.

Keterlambatan onset laktasi merupakan kondisi yang cukup sering ada pada ibu pascapersalinan. Oleh karena itu, banyak keluhan ASI seret di hari-hari awal menyusui berkaitan langsung dengan ini. Selain itu, kurangnya pemahaman tentang kondisi ini sering memicu kecemasan pada ibu. Dengan demikian, pembahasan keterlambatan ini perlu pembahasan secara jelas dan berbasis ilmiah.

Apa Itu Keterlambatan Onset Laktasi?

Inii adalah tahap awal produksi ASI matang atau laktogenesis II. Normalnya, ini terjadi dalam 24–72 jam setelah melahirkan. Namun demikian, keterlambatan ini terjadi ketika produksi ASI matang baru terjadi setelah lebih dari 72 jam pascapersalinan.

Pada kondisi ini, payudara belum terasa penuh dan ASI belum keluar berlimpah. Akibatnya, ibu sering merasa ASI tidak cukup meskipun proses menyusui sudah mulai.

Mekanisme Terjadinya Keterlambatan Onset Laktasi

Perubahan Hormon dan Onset Laktasi yang Terhambat

Keterlambatan ini berkaitan erat dengan gangguan keseimbangan hormon. Setelah persalinan, penurunan progesteron seharusnya memungkinkan prolaktin bekerja optimal. Namun, kondisi tertentu dapat menghambat respons ini.

Selain itu, kurangnya stimulasi menyusu menyebabkan pelepasan prolaktin dan oksitosin menjadi tidak maksimal. Dengan demikian, ini tidak terjadi sesuai waktu normal.

Peran Stres

Stres terbukti menjadi faktor utama keterlambatan ini. Tingkat kecemasan yang tinggi menghambat pelepasan oksitosin. Akibatnya, refleks pengeluaran ASI menjadi tidak efektif.

Bahkan, risiko keterlambatan ini meningkat secara signifikan pada ibu dengan kecemasan tinggi, dengan odds ratio mencapai 21,3.

Cara Mengatasi Keterlambatan Onset Laktasi

Inisiasi Menyusu Dini untuk Mempercepat Onset Laktasi

Inisiasi menyusu dini berperan penting dalam mempercepat ini. Kontak kulit ke kulit segera setelah lahir merangsang pelepasan hormon prolaktin dan oksitosin.

Oleh karena itu, IMD menjadi langkah utama dalam pencegahan keterlambatan ini.

Menyusui Sering dan Manajemen Stres

Menyusui sesering mungkin, idealnya 8–12 kali per hari, membantu mempercepat ini. Selain itu, pengelolaan stres sangat diperlukan untuk mendukung refleks oksitosin.

Dengan dukungan emosional dan edukasi yang tepat, ini dapat terjadi meskipun sempat terlambat.

Keterlambatan onset laktasi adalah kondisi yang cukup umum dan dipengaruhi oleh faktor hormonal, psikologis, serta proses persalinan. Oleh karena itu, pemahaman yang baik tentang ini dan keterlambatannya dapat mencegah kecemasan berlebih pada ibu. Dengan menyusui dini, sering, dan mengelola stres, ini tetap dapat dicapai secara optimal.

Referensi
https://journal.unisa-bandung.ac.id/index.php/jaia/article/view/584
https://jik.stikesalifah.ac.id/index.php/jurnalkes/article/view/254

Comments |13|