Cek Penyebab ASI Belum Keluar Setelah Melahirkan

ASI belum keluar setelah melahirkan sering membuat ibu merasa khawatir. Padahal, kondisi ini tergolong normal karena tubuh masih dalam proses menyesuaikan produksi ASI setelah persalinan. Riset juga menunjukkan bahwa sekitar 30% wanita mengalami kondisi ini. Umumnya, ASI akan mulai keluar dengan sendirinya dalam beberapa hari hingga minggu berikutnya, bahkan dalam jumlah yang lebih banyak. Lalu, bagaimana sebenarnya proses keluarnya ASI?
Proses Keluarnya ASI
Sebagai Ibu baru, pasti Ibu penasaran tentang kapan sebenarnya ASI itu mulai di produksi.
Sebenarnya produksi ASI sudah dimulai dari akhir masa kehamilan. Pada fase ini, payudara Ibu sudah mulai menghasikan ASI pertama yang disebut dengan kolostrum. ASI ini jumlahnya sangat sedikit, berwarna kuning dan sangat tinggi nutrisi.
Setelah melahirkan bayi, tubuh ibu mulai memproduksi hormon prolaktin lebih banyak supaya bisa memproduksi ASI dalam jumlah yang banyak pula.
Pun di saat bayi mulai menyusu, hisapan bayi ini akan merangsang otak untuk melepaskan hormon lain bernama hormon oksitosin yang juga membantu mendorong ASI keluar.
Lantas, jika prosesnya sudah diatur sedemikian rupa, mengapa ASI belum keluar setelah melahirkan?
Penyebab ASI Belum Keluar Setelah Melahirkan
ASI belum keluar setelah melahirkan biasa disebut Delayed Onset of Lactation. Delayed Onset of Lactation biasanya terjadi 72 jam. Ibu yang mengalami Delayed Onset of Lactation biasanya adalah ibu yang pertama kali melahirkan atau Ibu yang menjalani proses persalinan secara caesar.
Penyebab utama dalam Delayed Onset of Lactation adalah karena faktor stres berat yang menghambat produksi hormon oksitosin dan prolaktin.
Selain itu, ada beberapa penyebab ASI belum keluar setelah melahirkan, antara lain:
- Plasenta belum lahir (retensi plasenta)
- Perdarahan
- PCOS
- Hipotiroid
- Diabetes
- Obesitas (resistensi insulin)
- Kesalahan pelekatan
- Dehidrasi
- Kekurangan nutrisi.
Cara Agar ASI Keluar Setelah Melahirkan
Hindari Stres
Memeliharan rasa stres atau emosi negatif, seperti cemas berlebihan, terbukti secara ilmiah menghambat produksi dan pelepasan hormon prolaktin dan oksitosin.
Padahal kedua hormon ini yang berperan dalam produksi dan pengeluaran ASI. Saat hormon terganggu, tubuh ibu secara otomatis tidak dapat memproduksi dan mengeluarkan ASI secara optimal. Inilah yang menyebabkan ASI belum keluar setelah melahirkan.
Perbaiki Pelekatan
Sebagai ibu baru, penting untuk memahami teknik pelekatan yang tepat. Pasalnya, menyusui bukan sekadar menempelkan bayi ke payudara, tetapi ada tanda-tanda pelekatan yang perlu Ibu pahami, antara lain:
- Dagu menempel di payudara ibu
- Mulut bayi terbuka lebar
- Bibir bawah bayi membuka lebar
- Areola bagian atas tampak lebih banyak

Lakukan Pijat Laktasi
Kalau ASI belum keluar setelah melahirkan, Ibu bisa mencoba untuk melakukan pijat laktasi. Pijat laktasi merupakan salah satu cara yang dapat membantu meningkatkan produksi sekaligus melancarkan aliran ASI yang tersumbat. Pijatan ini bekerja dengan menstimulasi hormon oksitosin dan prolaktin, sehingga tubuh menjadi lebih rileks dan proses menyusui pun lebih lancar.
Pastikan Nutrisi Tecukupi
Ibu menyusui dianjurkan untuk minum air putih minimal 2-3 liter per hari. Ngga cuma itu, Ibu menyusui juga butuh tambahan kalori sekitar 330-500 kalori per hari di atas kebutuhan normal atau setara dengan total 1.800-2.500 kalori per hari.
Makanya, penting bagu Ibu menyusui untuk mengonsumsi makanan bergizi seperti protein dan sayuran hijau.
Ibu juga bisa menambah asupan nutrisi dengan mengonsumsi suplemen yang kaya nutrisi, seperti ASI Booster Protabumin Nutrimom. Kandungan protein hewan dan nabatinya bisa membantu produksi ASI ibu meningkat dan lebih bernutrisi.
Kapan Ibu Perlu ke Dokter?
Jika semua cara sudah dilakukan namun produksi ASI belum keluar setelah melahirkan, Ibu disarankan untuk melakukan konsultasi dengan dokter.
Beberapa kondisi yang perlu diwaspadai, antara lain:
- ASI belum keluar sama sekali lebih dari 5 hari
- Mengalami nyeri pada payudara
- Bayi tampak penurunan berat badan dan jarang kencing
- Payudara nyeri dan bengkak
- Ibu mengalami demam hingga mengigil
Referensi
https://repository.poltekkes-denpasar.ac.id/
https://eprints.poltekkesjogja.ac.id/
https://fkeb.delihusada.ac.id/
ProtaBumin